Saturday, 24 February 2018

Arti Kata Mori atau Tuhan Konteks Manggarai

Ditulis oleh:
Melky Pantur***)
Diedit lagi oleh Penulis 
pada Sabtu (24/2/2018)

Arti Kata Mori atau Tuhan Konteks Manggarai

Tuhan (Morin)

Orang Manggarai mengenal Tuhan Allah (the God dalam bahasa Inggris) dalam kehidupan orang Manggarai sukar diprediksi tetapi yang pasti bahwa sejak orang Manggarai bisa berbicara dan diajarkan berbahasa Manggarai oleh ‘sesuatu’. Sejak itulah, manusia mulai mengungkapkan kata mori tersebut. Soal waktunya tentu sukar dihitung sejak kapan itu terjadi.

Awal Mula Munculnya Bahasa.

Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk mengekspresikan maksudnya kepada lawan bicara, orang lain atau benda tertentu melalui sikap dan perbuatan tertentu. Ada bahasa verbal (kata-kata) dan bahasa non verbal (tindakan, aktus, ekspresi tubuh). Komunikasi bisa intrapersonal (berbicara dengan diri sendiri) bisa juga interpersonal (berbicara dengan orang lain) bisa dengan dialog, diskusi, interview, tanya jawab bahkan bisa juga melalui tulisan dan lain sebagainya. Namun, di sini Penulis tidak mau berbicara secara detail soal bahasa. Yang saya ingin bahas adalah awal mula munculnya bahasa di bumi.

Menurut konsep agama, manusia adalah ciptaan Allah (atau Mori dalam bahasa Manggarai). Allah kemudian dimengerti oleh agama sebagai Roh, Roh Kudus, Ruhul Kudus, Holy Spirit. Dengan demikian, bahasa diajarkan Allah melalui Roh-Nya atau Roh Allah. Yang diajarkan pertama sekali oleh Roh tersebut adalah ungkapan dari sebuah bahasa lisan bukan bahasa tulisan.

Ajaran yang diberikan oleh Roh adalah komunikasi langsung dengan manusia. Komunikasi langsung tersebut menurut orang Manggarai adalah berupa tombo raja leso. Tombo raja leso itu maksudnya diajarkan pada siang hari dengan saling ketemu muka dan muka (face to face) oleh Roh. Ada pelbagai pengalaman perjumpaan antara para Nabi dan Tuhan sebagaimana diciptakan dalam pelbagai Kitab Suci dalam agama-agama di dunia – perhatikan tulisan Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mulai dari Kitab Kejadian hingga ke Kitab Wahyu bagaimana pengalaman perjumpaan dengan Ilahi termasuk cikal bakal nama Bangsa Israel. Tombo raja leso oleh teolog kerap diungkapkan sebagai melalui perjumpaan langsung dengan Yang Kratos, Yang Suci. Dalam agama kerap disebut sebagai ephifani (penampakan langsung).

Lalu, bagaimanakah bentuk kehadiran Allah tersebut agar bisa berkomunikasi dengan manusia? Ini pertanyaan penting untuk dikaji lebih lanjut.

Konsep Allah menurut agama tertentu mengatakan bahwa manusia adalah gambaran Allah. Memahami tentang kata ‘gambaran’ tentu sangat kompleks artiannya. Namun, jika dimengerti secara berbanding lurus dengan pengertian manusia tentu rupa Allah itu sendiri seperti manusia. Maka, betul bahwa manusia adalah gambaran Allah. Konsep manusia sebagai gambaran diri Allah tentu amat pas pada tataran kodratnya karena Allah tidak mungkin hadir dalam kodrat yang lain pada saat mengajar tentang bahasa, misalnya melalui binatang Komodo di Labuan Bajo tetapi hadir seperti manusia.

Allah yang menyerupai manusia itu lalu hadir mengajar manusia tentang bahasa. Pertanyaannya adalah bagaimana bentuk kehadiran-Nya itu? Nah, kita ke konsep tentang kata mori dalam bahasa Manggarai terlebih dahulu sebelum kita memahami pertanyaan di atas.

Arti Kata Mori.

Secara etimologis, kata mori dalam bahasa Manggarai nyaris sama dengan arti lainnya seperti kata mbaru. Kalau kata mbaru terdiri dari suku kata mbau dan ru. Mbau dalam konteks kelahiran bayi artinya plasenta di mana sang bayi dibesarkan di dalam kandungan ibunya selama sembilan bulan. Kata mbau dimengerti sebagai bagian atau sisi dari sebuah benda yang sukar ditembus oleh sinar matahari. Misalnya, kerap disebut lonto wa mbau haju (berteduh di bawah rindangan pepohonan saat matahari tengah teriknya). Sedangkan, ru artinya milik, kepunyaan sendiri. Misalnya, de ru gaku (kepunyaan atau milikku sendiri).

Dengan demikian, mbaru adalah tempat berteduh dari sinar matahari yang merupakan milik atau kepunyaan sendiri. Dalam bahasa Indonesia, kata mbaru tersebut dimengerti sebagai rumah. Jadi, mbaru adalah rumah.

Arti Kata Mori.

Kita kemudian bertolak ke kata mori. Secara etimologis, kata mori terdiri dari dua suku kata, yaitu mo dan ri. Kata mo nyaris sama dengan kata ngo. Kedua kata ini sama-sama berarti pergi dan merupakan kata kerja (dalam bahasa Manggarai mo niah hau – Anda mau pergi ke mana?).  Mo artinya pergi, niah artinya ke mana dan hau artinya Anda. Jadi ke kalimat pertanyaan, kata bertanya. Kata mo dalam bahasa keseharian senantiasa diikuti dengan keterangan maksud dari sebuah tindakan pergi misalnya.

Sedangkan, kata ri adalah sebuah kata seruan panggilan terhadap matahari. Kata ri biasa dipakai untuk memanggil matahari. Misalnya, ri ri ri ri ri…………..iiii…………………! Hal itu lazim dilakukan oleh orang Manggarai misalnya ketika memanggil terang matahari (saat sedang menjemur padi, jagung atau makanan sejenis lainnya) yang sedang diselimuti awan sehingga padi yang sedang dijemur menjadi mbau (mbau artinya tidak ditembusi sinar matahari). Ri berarti memanggil terang, sehingga jelas ri adalah sinar matahari, terang matahari. Jika demikian, ri adalah matahari, matahari yang terang, bercahaya, sinar penerangan. Ri dalam dialek Kempo bisa juga berarti bertanya. Artinya, eksistensi Tuhan layaknya filsafat senantiasa ditanyakan oleh bangsa-bangsa tentang identitas-Nya. 

Berdasarkan dua suku kata tersebut, mori artinya adalah cahaya atau terang. Bagaimana jika ri (terang) itu mo (pergi) maka yang ada adalah kegelapan. Yang jelas segala jenis makhluk hidup tidak bisa hidup dan alam ini gelap gulita. Mori bisa diartikan secara terbalik berdasarkan urutan suku katanya yang berarti terang kemarilah engkau. Siapakah terang itu? Terang itu adalah Allah (Morin agu Ngaran, Jari agu Dédék).  Jadi, itulah konsep tentang mori dalam kehidupan orang Manggarai.
Terang Sesungguhnya!

Menurut konsep agama tertentu, Allah itu adalah terang yang bercahaya dalam kegelapan. Dan manusia adalah gambaran diri Allah itu sendiri. Tadi dikatakan bahwa Allah adalah terang dan bahwa Allah itu menyerupai manusia. Berdasarkan konsep tersebut, lalu siapakah manusia terang tersebut? Lalu, apa hubungan antara manusia terang dengan terang manusia? Nah, manusia terang itu adalah terang manusia, dan terang manusia itu adalah Allah.

Pertanyaan lanjutannya adalah yang mengajarkan manusia itu siapa? Jawabannya jelas bahwa yang mengajar manusia adalah terang itu sendiri. Terang itu adalah Roh Allah. Apa konsep Plato tentang manusia? Menurut Plato, manusia terdiri dari tiga, yaitu jiwa, badan dan roh. Konsep Plato ini sama dengan konsep orang Manggarai tentang manusia di mana manusia terdiri atas weki, wakar agu asé ka’é weki. Siapakah asé ka’é weki tersebut? Asé ka’é weki itu adalah terang manusia atau Roh Allah yang memampukan manusia untuk melakukan dan menangkap semua ajaran yang telah diberikan-Nya kepada manusia termasuk bahasa lisan – soal bagaimana istilah asé ka’é weki dapat dipelajari dalam Kejawen Hindu Jawa.

Pertanyaan kemudiannya adalah bagaimana dengan laksaan bahasa di bumi? Bagaimana model pengajarannya? Jawabannya adalah Allah pemula bahasa-bahasa. Dia menciptakan bahasa-bahasa. Jika demikian, mengutip pesan salah satu ajaran bahwa bermacam-macam karunia tetapi satu Roh, bermacam-macam kemampuan di bumi tetapi satu Roh. Roh yang satu dan sama itulah yang memampukan segala sesuatu. Pertanyaan berikut, bagaimanakah dengan makhluk lain yang berinsting yang nyaris bersosial seperti manusia? Hal itu tampak dari sifat burung-burung, induk ayam yang memanggil anak-anaknya. Anak-anaknya diberi makan. Bagaimana keterlibatan Allah dalam kehidupan mereka? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Anda pasti telah mendengar apa itu ajian senyawa/aji gening di mana manusia dapat mengenal bahasa binatang – perhatikan cikal bakal ceki orang Manggarai dan bagaimana kisah Raja Malawapati di Jawa, salah seorang Raja yang populer, Angling Dharma.

Lalu, bagaimana bahasa itu diajarkan?

Bahasa itu diajarkan oleh terang itu kepada manusia melalui perjumpaan langsung atau raja leso. Ajaran itu dilakukan olehNya dalam pengalaman perjumpaan langsung. Ajaran tersebut tidak sekali jadi tetapi dari hari ke hari dan berlangsung lama. Terang itu memberi nama-nama dan diberitahukan kepada manusia. Terang tersebut dapat juga memberitahu langsung tanpa kehadiran fisik RohNya tetapi dimasukkannya ke dalam pikiran (berupa antarkarana – akan dibaca pada halaman berikut) setelah diberikanNya dasar-dasar bahasa kepada manusia sebab dalam diri manusia sudah ada asé ka’é weki yang merupakan representasi kehadiran diri Allah. Atas dasar itu, benarlah dikatakan hidup adalah penyelenggaraan Ilahi.

Dari pengalaman, pengetahuan manusia itu dikenallah istilah serong disé empo mbaté disé amé (peninggalan nenek moyang yang merupakan kebiasaan mereka yang kemudian ditangkap dan diwarisi secara turun-menurun). Kebiasaan tersebut kerap disebut sebagai kebiasaan bahasa lisan. Setelah menguasai bahasa lisan, diajarkanNya bahasa tulisan kepada manusia-manusia. Namun perlu diketahui bahwa ajaran bahasa lisan dan tulisan dapat dilakukannya melalui alam mimpi, dalam mimpi atau dikenal raja wié. Warisan bahasa tersebut sebagaimana telah dikatakan kemudian diteruskan oleh orang-orang yang telah mengalami perjumpaan langsung dengan yang dijuluki sebagai Terang Manusia tadi.

Filosofi Usang Ala Manggarai.

Bagaimana relasinya dengan sebutan usang orang Manggarai?
Mari kita kaji dan lihat di bawah ini……………….
Lah, usang di sini bukan usang pakaian tetapi usang dalam arti hujan, rain (water).
Jika dieja, kata ini terdiri dari dua suku kata, yaitu u dan sang.   U adalah bisa abjad, bisa lambang. Sedangkan, sang adalah kata depan, kata predikat yang dimuliakan.
Lalu, mengapa orang Manggarai memberi usang untuk hujan? Nah, mungkin ini jawabannya.

Kata u bisa simbol, lambang; bisa juga menunjukkan sebuah sang, kebesaran, persatuan. U bisa universum, union, umum. Universum adalah bahasa lain dari Roh Semesta, Budi Semesta, Allah.

Dalam teologi Hinduisme, huruf u nyaris mirip dengan simbol yang ada di dahi Dewa Wisnu, Kresna. Hinduisme juga menyakini, Indra adalah Dewa Hujan.

Yunani kuno memberi Zeus sebagai Dewa Hujan selain status Dewa Zeus sebagai Dewa Matahari juga, yang dalam Hinduisme disebut Dewa Surya atau Dewa Matahari. Kemudian, sebagaimana diketahui, proses terjadinya hujan melalui proses siklus yang cukup panjang.

Siklus tersebut berawal dari pekerjaan Dewa Surya yang memanasi Dewa Waruna (air, laut dan samudera). Waruna membentuk gumpalan awan kecil yang kemudian pergi ke sana kemari atas bantuan Dewa Bayu (angin). Awan kecil ini kemudian membentuk cumulonimbus. Cumulonimbus inilah yang bakal memproduksi petir atau Dewa Maruta bekerja di sana.

Atas bantuan Dewa Surya dan Dewa Maruta, maka terbentuklah butir-butir hujan. Hal itu juga terjadi atas kerjasama dengan Dewa Indra. Untuk menentukan lokasi penyiraman, Dewa Bayu yang mengatur titik lokasi turunnya Dewa Indra membasahi bumi.

Beberapa Dewa yang telah bekerja, sebagaimana diketahui adalah wujud Trimurti. Salah satu wujud Trimurti tersebut adalah Dewa Wisnu, Kresna dengan lambang nyaris berbentuk U.

Menuju ke Indonesia.

Pancasila dengan lambang Burung Garuda adalah kendaraan Dewa Wisnu. Kresna adalah wujud dari bangsa ini. Kresna adalah simbol penjaga bangsa.

Kita menuju ke Manggarai - Flores.

Di Manggarai, salah satu bentuk budaya yang populer adalah bentuk pembagian lodok. Lodok adalah simbol matahari, simbol senjata Dewa Kresna, yaitu Cakra. Hal itu ternyata melalui cirinya yang khas berbentuk sarang laba-laba.

Selain itu, salah satu dari lima filosofi budaya orang Manggarai adalah barong waé. Waé adalah air, adalah hujan, juga adalah usang.

Pertanyaan berikut, mengapa orang Manggarai menyebut hujan sebagai usangUniknya, usang dalam Bahasa Indonesia arti lainnya pakaian yang ngengat, tua. Nah, jika ingin bersih dan awet tentu menggunakan air, salah satunya adalah air hujan.

Tentu, di situlah relevansi antara usang yang kemudian membersihkan benda usang. Hanya dengan usang, usang tidak berusang lagi karena waé juga berasal dari usang dan karena usang benda juga bisa usang sekalipun dengan usang pula usang akan berubah menjadi clean and fresh. Ini sungguh luar biasa.

Apa hubungan toka usang dalam konteks budaya pertanian di Manggarai?

Lazimnya, pada musim tuai, orang Manggarai menggelar toka. Toka sebenarnya meminta kepada Dewa Bayu agar gumpalan awan di langit ditiuppindahkan ke tempat lain agar Dewa Surya tidak dihalangi dan aktivitas penuaian berjalann lancar.

Kita kembali ke pertanyaan, mengapa orang Manggarai menyebut hujan sebagai usang?

Kalau waé atau air, water, aqua bisa berasal dari kata seruan wa'a é! Wa'a é artinya terhanyut atau terapung oleh embo atau banjir besar karena hujan/usang. Sedangkan, kata é merupakan pengganti nama orang lain yang mungkin ikut atau tidak mengetahui apa yang telah, tengah terjadi.

Hujan lebat dalam ucapan bahasa Manggarai disebut usang nereng. Sedangkan, untuk buah-buahan yang lebat disebut recut/rapos. Recut juga bisa diartikan perkelahian yang amat sangat sengit. Juga, hujan es bagi orang Manggarai disebut usang bua. Dan, menurut kepercayaan orang Manggarai, hal itu akan membawa hasil panen yang melimpah.

Dalam ilmu alam, hujan es terjadi akibat awan culomonimbus yang sulit dihancurkan petir hingga tidak murni menjadi air sesampai ke permukaan bumi.

Mengapa disebut nereng? Disebut demikian karena hujan yang datang seperti gemuruh yang besar.

Layaknya waé, orang Manggarai kerap memakai nama benda karena sebuah peristiwa. Usang sebenarnya seruan penghindaran.

Lumrah pula, orang Manggarai, jika lari menghindar sambil berteriak sekaligus membuat pemberitahuan uuu....uuu...uuu, lalu bunyi air hujannya mirip sang apalagi ditambah dengan angin. Maka, air hujan mereka beri nama usang. Biasanya, dalam acara adat, orang tua adat kerap menyebut uuu...uuu...uuu...sampar raja wela...uuu...! Aslinya: uuu....sampailah Raja yang  membela!

Hal itu tidak heran, nama kampung di Manggarai, nyaris 90% juga diberikan ke nama tetumbuhan dan pohon-pohon. Jadi, senang mencari nama-nama yang singkat dan sepadan sesuai kondisi.

Hal semirip, misalnya watu. Wa artinya di bawah, tu diambil dari hitu sehingga wa hitu kemudian menjadi watu. Dulu orang Manggarai bangun rumah dengan dasar batu, lalu batu-batunya diambil dari kali.

Sama dengan buru atau angin. Lazimnya, kalau meniup api pasti bunyinya buw....sedangkan ru gubahan de ru/kepunyaanku. Sehingga, disebut buru saja. Begitu juga api, api dalam bahasa Manggarai adalah lancing maka dikenal watu lancing yang biasanya untuk api dibakar di bou (yang berasal dari enau) terlebih dahulu lalu dengan kayu bakar atau semak-semak kering.

Dari sekian contoh di atas, orang Manggarai dulu memberi nama air hujan dari berdasarkan sebuah peristiwa namun tidak disadari bahwa usang adalah pengertian dari u dan sang, yang dimengerti sebagai Sang Universum. Hal itu orang Manggarai menyebut Sang Universum sebagai Awang agu Tana; Parn Awo Kolepn Salé.

Usang menurut orang Manggarai berasal dari awang/langit sekalipun mereka tahu hujan datangnya dari rewung/awan. Karena itu, usang hampir sama dengan osang. Osang atau tempat berteduh, seperti rumah/mbaru. Ketika sudah atau tengah sampai tinggal di sebuah rumah pada saat hujan, bisa saja disebut: ho'o sang ga. Ho'o bisa disebut o lalu sang, maka disebut osang saja. Osang alias mbaru artinya nyaris sama, meski osang juga adalah kamar tidur atau juga disebut usung.

Berkaitan dengan mbaru, juga terdiri atas dua kata mbau dan ru. Mbau artinya teduhan, ru artinya kepunyaan sendiri. Yah, mbau ru, tempat berteduh sendiri, osang baté ka'éng.

Berikut, apakah ada hubungan antara u-Tsang di Tibet dengan usang Manggarai?

U-Tsang adalah jantung budaya masyarakat Tibet yang notabene menjadi pusat perkembangan Budhisme? Namun, memang berdasarkan sejarah Indonesia jauh lebih dulu peradaban Hinduisme dan Budhisme masuk lagipula di Jawa amat populer dengan Kejawen dan Selamatan sekarang ini.

Kendati demikian, apakah nama usang dalam Bahasa Manggarai gubahan dari U-Tsang, layaknya nama Mangko Tongkok yang sebenarnya Mangko Tiongkok? Halnya hari Sabtu lalu disebut Sapatu?

Nah, itu sulit dan itulah yang hendak diendus kemudian soal kebenarannya tetapi yang pasti layaknya sebutan moringe atau kelor atau peronggé adalah sebutan untuk Sang Hyang Widi sekalipun hiang dalam Bahasa Manggarai juga diartikan sebagai "cinta hormat". Hiang bagi orang Manggarai berarti menghormati, misalnya dengan kalimat: Mori Keraeng yata hiang lami – Tuhan Allah yang kami hormati! Semua itu relasinya.

Mori.

Dalam kehidupan orang Manggarai, kata mori terdiri dari dua kata mo dan ri. Mo artinya kalimat pertanyaan pergi. Misalnya, mo nia ite ra? (Keraéng pergi ke mana?). Kata mo ini adalah dialek Kempo, yang dalam dialek Rahong disebut ngo.

Sedangkan, kata ri adalah seruan panggilan. Seruan panggilan kepada matahari. Biasanya, jika orang tua menjemur padi, mereka sering memanggil riririri...riiiii.....manakala sinar mentari ditutupi awan. Ketika Dewa Surya dihalangi Dewa Indra sebagai Dewa Cuaca, maka lahirlah panggilan ri. Sehingga, mori adalah terang sebagaimana Shinto Jepang juga memahaminya.

Mori dalam bahasa Manggarai adalah  Pemilik, Roh Semesta. Lebih umum disebut, Mori agu Ngaran, Pu'un Caoca. Lebih lagi, Mori adalah terang, cahaya.

Dalam Bahasa Jepang, kata Mori lebih diartikan sebagai hutan rimba. Lalu, dalam Hinduisme, hutan rimba dilambangkan dengan Dewa Siwa yang tinggal di Kailas yang sekalipun penuh dengan es. Dewa Siwa/Pelebur adalah bagian dari Trimurti. Ketika dihubungkan, akan ketemu makna dan artinya.

Kemudian pula, dalam tradisi dan rentang ziarah Kekristenan sebagaimana ditulis dalam Alkitab, Tuhan Yesus sebagai Yang Mahakuasa diibaratkan dengan terang, terang abadi. Sebuah ungkapan popular: Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup; Aku adalah alfa dan omega, awal dan akhir.

Itu semua refleksi komponen dari hidup kendati sebuah ajaran kerap dipaparkan melalui perumpamaan, peristiwa alam dan sebagainya dengan maksud memahamkan manusia di bumi kendati memang agak banyak hal yang sukar dipahami karena kekuatan hard disk dan gigabyte memory card pada manusia.

Apa hubungannya dengan usang? Menurut orang Manggarai apa pun berasal dari Morin. Semua yang datang dari atas berasal dari Terang. Hubungannya, kata usang dan mori nyaris bermakna sama ketika coba dibahas. Kedua kata ini sama-sama berarti Sang Universum, Ilahi sebagaimana Mori juga artinya hutan rimba sebagaimana arti kata Bangsa Jepang dan yang terkenal dengan Shinto mereka.

Ditulis oleh: Melky Pantur***),

[Penulis]

Minggu (7/2/2016). 
Tulisan ini diambil dari berbagai sumber.


Saturday, 27 January 2018

Politik Rujak.

Ditulis oleh: Melky Pantur***,
Minggu (27/1/2018).



Politik Rujak dalam Teks Praksis Parpol.

Tahu, apa itu rujak?

Rujak adalah tindakan mencampurkan benda tertentu menjadi sebuah menu makanan dengan maksud memuaskan hasrat sesaat dari tubuh yang sifatnya musiman ataupun tidak sesuai jenis hadirnya benda tertentu dan permintaan selera dari subjek tertentu. Misalnya, juga mangga mentah, rujak umbi-umbian, rujak mentimun, rujak pepaya, bisa juga rujak pisang goreng.

Sifat-sifat dari politik rujak, di antaranya:

Pertama, kesemuan.

Rujak tak lumrah dilakukan. Yah, sebuah tindakan kekadang-kadangan, musiman, amat jarang dan hanya sebuah euforia. Lazim, subjek pelaku adalah kalangan para feminis yang tengah mengandung buah hati. Dalam teks politik praktis, konstituen kerap terlena dalam euforia sesaat tanpa validitas data yang mumpuni. Ibarat meneguk air rujak sifatnya enak seketika bukan menjadi menu harian. Karena sifatnya kesemuan, tentatif maka pemberian uang, barang dan jasa lain dalam kesesaatan adalah modusnya. Wujud konkretnya serangan fajar, sewa dan kontraktual. Prinsipnya, yang penting enak saat itu atau lebih pada nikmatilah hari ini. Di sini sama dengan situasional kendati politik praktis juga adalah situasional. Orang Manggarai bilang: Mbalu mata de racap wanang, mbalu lelo de racap leo.

Kedua, pemaksaan.

Rujak dapat saja bersifat pemaksaan, permintaan keharusan. Tanpa menghiraukan data, kemampuan, musimnya. Dikaitkan dengan politik praktis, konteks Manggarai disebut tungkal dan sangkol atau seruduk sembarangan. Tanpa menghiraukan situasi dan keterimaan sosial, asal bapa senang menjadi prinsip utama di sana. Karena merupakan pemaksaan maka ada kewajiban keharusan remang-remang. Artinya, fondasi sasaran keharusan tidak matang yang berdampak pada ketidakmaksimalan hasil yang ingin dicapai. Di sana seseorang dipaksakan untuk maju padahal kemampuan pribadi tidak ada. Orang Manggarai bilang: dukut toe tutus nai ru'u, rekeng toe reje leleng ata para le, seduk ngempuk le ru.

Ketiga, ngidam politik.

Ngidam dari perspekstif kehamilan adalah sebuah keinginan dasar manusia perempuan untuk mendapatkan makanan tertentu sesuai permintaan bayi di dalam rahim. Di sini ada kemungkinan yang terjadi, yaitu asa tidak didukung oleh fakta pembangunan di lapangan sehingga terjadi kesenjangan dan bisa karens ada sesuatu (berupa bayi di dalam rahim, uang dan bagi pria dorongan kemauan karena sakit misalnya). Nah, politik rujak dalam konteks ngidam politik karena ego pribadi, karena ada uang dan mesin partai padahal tidak mempunyai kemampuan manajemen personal yang mumpuni juga pengalaman tidak ada. Uang menjadi medium keseganan dan keterpujian. Orang Manggarai bilang: Embong le bora, ndeong neho enggo hemong keor kelo.

Keempat, opsi kontras internal.

Layaknya ngidam, di sana terjadi pertentangan asa, keinginan internal. Banyak ego yang dihalangi superego-superego. Carilah jalan keluar yaitu dengan rujak karena harus dipenuhi. Contoh praksis, dalam satu parpol ada banyak orang yang maju namun dinilai belum ranum dan tidak pas, maka dicarilah cara lain menghindari ketertinggalan agar dinilai partainya tidak matang. Memenuhi keinginan tersebut, dipilihlah orang tertentu sesuai kesenangan parpol atau orang tertentu pula misalnya pimpinan parpol. Orang Manggarai bilang: Aku kanang ro'ang le poco.

Kelima, deman kredibilitas.

Kredibilitas menjadi taruhan utama kehidupan seseorang. Karena merasa diri diinjak-injak maka prinsip lawan dulu menjadi dasar utama. Demam kredibilitaslah yang melahirkan rujak politik karena ia sendiri sudah tidak yakin bisa. Sebab terjadinya bisa karena dorongan penipuan dan kemunafikan, atau tim sukses yang berpotensi menjadi sukses tim sehingga demam timbul. Di sana membutuhkan obat penenang bahkan memberikan penenang bagi yang lain. Penenang itulah rujaknya meski dalam teks poliitik praktisnya sudah tidak punya rasa percaya diri tetapi orang yang memaksakan diri percaya pada diri. Orang Manggarai bilang: Tuku pucu, par pakang berambang, sor wor komong cowel kin loke koen wiga ces leges.

Keenam, kuriositi teritori.

Rasa ingin tahu menjadi titik simpul di sini. Yah, lebih tepat ingin belajar wilayah karena didorong oleh egosentrisme teritori. Maka, daripada hanya berkembang di wilayah orang saja, caranya saya harus tampil untuk memajukan daerah atau wilayah sendiri tanpa berpikir komprehensif dan holistik. Target identitas parsial menjadi tujuan utama. Di sana, agama dan politik saling berbocengan atau dipentingkan sesaat. Orang Manggarai bilang: Bo caling mori ami, bom celung mori meu, todo kid bok ole mau tobok de golo.

Ketujuh, instruksi imperatif.

Salah satu identitas politik praktis adalah instruksi imperatif. Ego parpol adalah titik tungkunya apakah parpolnya menanak menu atau tidak. Apapun realitasnya, demi sebuah gengsi maka yang penting kader sendiri yang maju meski terkadang ada juga out of box karena keharusan imperatif internal dampak dari kesulitterpilihan produk dari laksaan kepentingan dan ego internal parpol itu sendiri. Yang pasti siap bertarung apapun resikonya, prinsipnya berbuat dulu. Orang Manggarai bilang: Wajos di, do'ong olo dungket musi, sumir nggermusi, somor nggariolo.

Kedelapan, rabun.

Politik rujak dilakukan karena mata sudah rabun. Itu karena adanya desakan waktu, kemepetan. Ada unsur keterpaksaan sudah menjamur maka jalan pintasnya adalah pakai kekerasan, uang dan main kuasa. Penyelenggara dibeli bahkan Pengawas begitupun keamanan. Orang Manggarai bilang: Mata laing ritak, kawe emong, toe lelos wejong, ngo olo toe cai olo, nenggitu kole ngo nggermusi wiga lengga cera, kinggit mimis.

Kesembilan, tanpa jasa dan nilai produk.

Politik rujak diakibatkan pula oleh figur tanpa jasa dan nilai jual dirinya. Tawaran yang dipakai tidak sewarna dengan tanda-tanda jasa maka ketika berkuasa harus konkret perbuatannya untuk masyarakat dan paling tidak riil buat mereka. Lupa konstituen di saat berkuasa sebab tergeraknya politik rujak. Orang Manggarai bilang: Woko eta lobo watuy, toe ninik yata sili, lelo yata bali leo, leleng yata bali be le, paka agu racang yata baling wanang, kantis yata bali be lau.

Itulah kira-kira yang dimaksudkan dengan politik rujak.





Sunday, 21 January 2018

Keraéng Christian Rotok: Gerakan Kawé Wa'u di Coal

Keraéng Christian Rotok mengunjungi saudara dan saudarinya di Gendang Coal

[Kepok curu]

Ditulis oleh: 
Mélky Pantur***, 
Senin (22/1/2018).

Agar mengetahui seperti apa sejarah cikal bakal kampung Coal dan Gendang Coal?

Lih.


Keberadaan Gendang Coal berudunya sejak hadirnya Empo Sasak di Ndori dan Rebong. Empo Sasak yang membentuk Gendang tersebut yang kemudian oleh keturunannya sekarang menamakan diri bersuku Nawang. Hal itu karena Empo Sasak awalnya membangun Gendang Lancung di Golo Nawang.

Sejak berkecambah hingga sekarang ini, sudah ada 20-an suku


yang mendiami kampung tersebut. Salah satu suku yang mendiaminya adalah Suku Cireng. Dan, kali ini Keraéng Christian Rotok yang bersuku Nawang dari keturunan Mbula menyambangi Gendang tersebut. Empo Sasak dan Mbula dapat saja masih satu keturunan.

[Rombongan memasuki Gendang]


Bacaan lain:


[Keraéng Christian Rotok tengah berbicara di Gendang Coal]

Memasuki Pemilihan Gubernur di Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa kandidat melakukan kunjungan ke konstituen. Salah satu bakal calon pasangan Esthon L. Foenay dan Drs. Christian Rotok melakukan kunjungan sekaligus sosialisasi beberapa visi Paket Esthon - Christ di Desa Coal, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Minggu (21/1/2018). 


Sebelum memasuki rumah Gendang Coal, Pak Christ Rotok diterima secara adat oleh Tu'a Gendang Coal, Frans Jeragan didampingi oleh tokoh penting Desa Coal, Hubertus Garut.

[Canda Pa Christ dengan warga Coal]

Bupati Manggarai dua periode itu didampingi oleh pendampingnya Héndrika Rotok dan dua Wakil Ketua DPRD Manggarai Barat, Marsél Jeramun dan Abdul Ganir.

[Abdul Ganir]

[Marsél Jeramun]

Usai di-kepok, Rotok langsung memasuki rumah adat Gendang Coal dengan diawali dengan acara lu'u mata do (turut berduka cita atas semua keluarga Coal yang telah dipanggil Yang Kuasa).

[Kepala Desa Coal, Keraéng Rofinus Sidi tengah memberikan sambutan dan ucapan selamat bertandang. Beliau ini terpilih kembali pada pentas Pilkades 2022]

[Frans Jeragan, Tu'a Gendang Coal]

Dalam sambutan dan curatan hatinya, Pak Christ menyampaikan, dirinya maju Pilgub NTT dengan niat yang tulus mau membangun NTT. Salah satu perjuangannya, kata dia, jalan Golowelu - Térang termasuk Propinsi Flores. Bahkan dirinya berjanji akan membantu rakyat NTT dengan dana APBD I untuk mempekerjakan 1 orang per desa dalam rangka membantu Desa.

Keraéng - keraéng Éndé di Gendang Coal.



Selain ruas jalan Propinsi, dirinya akan memperjuangkan Propinsi Flores. Propinsi Flores, ungkapnya, akan mudah membantu rakyat dari ketertinggalan. "Propinsi Flores itu kemauan rakyat Flores dan karenanya seorang pemimpin harus memperjuangkannya. Saya berpikir itu akan jadi," katanya.

Dikatakannya pula, setiap pemimpin mempunyai cita-cita, visi untuk membangun daerahnya tetapi jangan salah memilih. Dia berpesan, ketika rakyat mempercayakan suara mereka kepadanya, maka akan diwujudkannya. Rakyat harus cerdas memilih, tambahnya.






Sementara itu, Keraéng Marsél Jeramun menegaskan, untuk memilih Gubernur NTT harus dipastikan terdata sebagai Daftar Pemilih Tetap (DPT) atau paling tidak memiliki E-KTP dan Kartu Keluarga. Jika tidak akan sia-sianya, ucapnya.

Jeramun berharap, semua warga Manggarai Barat harus memiliki beberapa identitas untuk bisa memilih Gubernur NTT terutama balon Gubernur pilihan Esthon-Christ.

[Suasana di dalam Mbaru Gendang]

[Tuak réis]

Pasca Pak Christ menyambangi gendang itu, rumah adat itu kemudian dibangun. Bahkan Pak Adrianus Garu juga sempat menyambangi rumah adat itu sebelum dibangun. Rumah adat sudah dibangun baru. 

Perkembangan 2023 di Coal.

Desa Coal memang telah lama dialiri listrik sejak tahun 1994. Tahun 2022, Pemkab Manggarai Barat di bawah kepemimpinan Pak Édy Éndi dan Pak Yul Wéng (Édy - WÉng) jalur itu telah dihotmiks. 
Kemudian, Gendang Coal pun sudah diganti total dari dinding seng ke semen (LihProses Pembuatan Rumah Adat Gendang Coal).


Biarkanlah Sejarah Tetap Tercatat dan Terdokumentasi

Cerita ini adalah kenang-kenangan pada saat mana Pak Christ Rotok menyambangi gendang Coal beberapa tahun yang lalu. 

Betapa tidak, Pak Christ yang berasal dari Laci, Lamba Léda bersuku Nawang menyambangi keluarganya di Coal. 

Orang Nawang di Coal bertotem Paku Mendung walau diakui, perbedaan ceki (totem) tidak serta merta tidak ada hubungan keluarga. Totem dapat terjadi karena beberapa peristiwa tertentu. Misalnya, ceki cemberuang orang Nampé Mbaru karena suatu nazar tertentu berdasarkan peristiwa. Begitupula dengan Nawang Laci dan Nawang Coal.

Halnya orang Cireng di Coal yang bertotem nggewo. Semua totem berada dalam titik pusaran sejarah tertentu tidak berarti tidak memiliki relasi kekerabatan dengan suku-suku lainnya.

Yang pasti bahwa apa pun perlu dicatat laksana mengumpulkan serakan dedaunan kering barang mungkin berguna mulia di masa depan. 

Cerita tentang Abraham dari bangsa Yakob yang disebut Israel yang kemudian memondial berkat bahasa tulisan. 

Bukan hanya orang-orang Todo (bukan Todo di Ndoso tetapi Todo di Satar Mésé) dengan catatan sejarahnya yang kemudian dikertaskan, sejarah tentang suku lain juga perlu dipapantuliskan. Itu adalah tugas kita generasi masa kini.







Sunday, 14 January 2018

Kisah Ceki Cik Orang Sita.

Ditulis oleh: Melky Pantur***,
Minggu (14/1/2018.


[Inilah cik totem dari keturunan di Sita dan Wangkung Nunuk]

Pada masa lampau, demikian Keraeng Lambertus Paput, Jumat  (5/1/ 2018), Eyang mereka di suatu tempat melihat buliran padi ranum tengah tumbuh di tebing.

Konon dahulu kala, banyak orang yang memiliki ilmu Aji Senyawa atau Aji Gening seperti kisah Raja Angling Dharma, Raja Malaqapati - Baca juga Aji Gening dari Wae Teku Tenda. 

Lalu.............

Eyang yang belum diketahui namanya itu, coba berkomunikasi dengan semua jenis binatang. Hasil komunikasinya, awalnya dia meminta bantuan seekor tikus. Tikus itu tidak mampu mengambilnya karena buliran padi ranum itu masih melekat dengan tongkol atau batang padi yang siap dituai tersebut - dalam bahasa Manggarai disebut cehu.

Dalam keinginambilannya itu, Eyang itu meminta bantuan burung pipit (cik dalam bahasa orang Manggarai). Cik tersebut pun mampu mengambilnya.

Atas bantuan tersebut, Eyang dan cik itu mulai membuat perjanjian. Eyang itu bernazar bahwa sejak saat itu, dia dan keturunannya tidak boleh memakan burung cik hingga kapanpun.

Relasinya dengan Ceki Cik Orang Wangkung Nunuk.

Orang Wangkung Nunuk, keturunan mereka dilarang untuk memakan cik. Namun, belum ditelusuri lebih lanjut oleh Penulis, apakah cikal bakal ceki cik orang Wangkung Nunuk tersebut yang barangkali ada kaitannya dengan ceki dari Eyang Lambertus Paput?

Sumber foto: https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ8s7UYHi_Gn621c9YvhYmMuS1iRKBFBGWdLTOHlVV1eTSBqtfr_E-LKltjfw


Bacaan lain:

Lihhttps://melky-pantur.blogspot.co.id/2017/08/golo-nderu.html

Lih. https://plus.google.com/117748896674938088790/posts/cXoJewtzSNf

Saturday, 13 January 2018

Tahun Baru Bersama TK. St. Gabriel Ruteng 2018.

Posted by: Melky Pantur***, 
Minggu (14/1/2018).

[Anak-anak TK St. Gabriel Ruteng tengah pose bersama usai Misa bersama. Foto: Regina Wangung]

[Anak-anak menari bersama usai merayakan Misa Kudus]

[Persiapan Perayaan Ekaristi Kudus]

[Nyanyi bersama]

TK St. Gabriel Ruteng yang terletak di Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong, Kab. Manggarai, Flores menggelar pesta tahun baru bersama, Sabtu (13/1/2018). Mereka menyambut Tahun Baru, 1 Januari 2018. 

Selain merayakan Tahun Baru bersama yang didampingi para orang tua, mereka juga menggelar Natal bersama sahabat-sahabat di sekolah.


Friday, 12 January 2018

Ci Pitu Empo Takang Relasinya dengan Timung Te'e.

Ditulis oleh: Melky Pantur***,
Jumat (12/1/2018).

[Poco - Cibal tempoe doeloe]

Inilah Kisah Cerita Ci Pitu Empo Takang Relasinya dengan Timung Te’e di Wudi.

Lih. https://melky-pantur.blogspot.co.id/2017/03/manggarai-tempoe-doeloe.html. Sumber foto dari website netherland.

Sejarah membutuhkan data mentah atau disebut sebagai datum. Siprianus Jedaut, titisan Empo Takang melalui telepon selulernya kepada Silvester Takang (Sekretaris Dinas Perdagangan Kabupaten Manggarai, Kamis, 12 Januari 2018), menuturkan silsilah Empo Takang. Berikut penuturannya:

Asal Mula.

Hormat dan Rahmat.

Keturunan Hormat.

Hormat memperanakkan Tuama, Samsudin dan Ngolo. Tuama dan Samsudin tidak diketahui sejarah keturunannya kemudian karena masih kurangnya informasi yang diperoleh oleh Penulis.
Keturunan Ngolo.

Ngolo memperanakkan Coel.  Coel memperanakkan Lompeng dan Sitar. Lompeng anak dari hasil perkawinannya dengan molas Watu Rangat yang merupakan isteri pertamanya yang bernama Lindeng, sedangkan Sitar hasil perkawinan dengan isteri kedua yang merupakan darat (sejenis bidadari perempuan) yang berasal dari Liang Wudi. Keturunan Sitar inilah cikal bakal lahirnya Timung Te’e yang bersuamikan Lanur. Sitar beristerikan orang Cibal - tidak diketahui namanya.

Lalu……………..

Anak isteri pertamanya si Lindeng melahirkan anak bernama Lompeng. Lompeng kemudian memperanakkan Dangka. Dangka memperanakkan Pangka dan Takang. Nah, kakaknya Takang yang bernama Pangka itulah yang kemudian menempati Kampung Ndehes, sedangkan Takang tinggal di Golo Cador.

Silsilah Empo Takang.

Dengan demikian, silsilahnya Empo Takang: Hormat – Ngolo – Coel – Lompeng – Dangka – Pangka dan Takang.

Silsilah Empo Sitar.

Ada pun Eyang Sitar: Hormat – Ngolo – Coel – Sitar – Timung Te’e. Coel yang memperisterikan darat di Liang Wudi saat bertemu di mata air itulah, maka lahirlah Sitar.

Keturunan Takang.

Takang memperanakkan Hap, Ngkahar dan Ganti. Hap lahir dari kandungan isteri pertama, seorang molas (gadis) Riung - Cibal. Sedangkan, Ngkahar dan Ganti anak dari isteri kedua, seorang gadis asal Lawi – Congkal.

Keturunan Hap.

Hap memperanakkan Tondo dan Cicing. Tondo memperanakkan Angka. Angka memperanakkan Anggang, Ka’ang, dan Sangkang. Sedangkan, Cicing memperanakkan Jankam. Jankam memperanakkan Raha, Ceki dan Alang.

Kisah Ci Pitu Empo Takang.

Pro Todo.

Empo Takang pada masa lampau membela orang Todo dalam rangka melawan orang Cibal. Ketika Cibal kalah, Empo Takang meneruskan misinya menuju ke Reo dengan maksud melawan Mori Reo.

Kilasan Ci Pitu.

Ada pun ci atau suntang  - perjanjian kemampuan secara sepihak dilakukan oleh Mori Reo kepada Empo Takang seperti perjanjian ujian kemampuan, sebagai berikut:

Pertama, menarik kapal. Empo Takang disuruh oleh Mori Reo untuk aru kapal wa mai tacik ba eta tana masa (menarik kapal laut dari laut menuju daratan).

Kedua, membedakan anak bebek. Ci kedua ini, Empo Takang disuruh nia taran anak bebek ata wain agu ata lakin (membedakan jenis kelamin dari anak bebek yang baru menetas).

Ketiga, membawa meriam. Ci ketiga, menyuruh Empo Takang untuk pola meriam mai lau mai Kendindi caing/nang le Tengku Romot (membawa sendirian dua buah meriam dari Kedindi menuju Tengku Romot yang diperkirakan sejauh dua kilometer). Empo Takang menamakan kedua meriam tersebut sebagai reba mbaling dan molas mbaling.

Keempat, mematahkan besi. Ci keempat disuruh untuk ri’o beci mongko (mematahkan besi baja seperti linggis rupanya).

Kelima, memakan garam tiga kubik. Ci kelima, dia disuruh memakan ci’e telu jeruku (garam sebanyak tiga kubik).

Keenam, mengadu kerbau. Ci keenam, dia diminta untuk raha tungkal taud kaba (mengadu tanduk kerbau).

Ketujuh, kerbau berjalan di dalam bambu bahan pembuat seruling. Ci ketujuh, dia diminta untuk lakon kaba one mai helung (memasukkan kerbau ke dalam bambu sebagai bahan pembuat seruling dan berjalan di dalammya).

Nah, semua tantangan itu mampu dilakukan oleh Empo Takang termasuk memenangkan aduan kerbau. Setelah peristiwa itu, Mori Gowa pulang dan singgah di Wudi. Di Wudilah, Mori Gowa menyematkan kepada Empo Takang sebagai Panglima Perang Todo. Mori Gowa pun menawarkan satu hal kepada Empo Takang namun Empo Takang hanya menerima sebagai Dalu Ndehes saja tepatnya di Gelarang Poka. Setelah peristiwa itulah, taki mendi dihapus. Apakah hubungannya dengan Sernai yang berhasil membunuh Mori Reo dan cerita watu ranggi di Ranggi?

Asal Mula Ceki Ndamu.

Dahulu kala, hiduplah Hormat dan Rahmat. Mereka adik berkakak suka berburu. Di suatu tempat mereka mendapatkan binatang buruan berupa ndamu atau kula yang dalam bahasa Indonesianya berarti musang. Kemudian, si kakak itu menyuruh adiknya mencari laca. Sepanjang adiknya mencari, sulit ketemukan laca tersebut lalu saat pulang daging musang tersebut sudah di-ceang (dipotong-potong). Karena merasa jengkelnya, si adik pun bernazar untuk mereka segera berpisah. Maka terjadilah perpisahan. Kisah tersebut mirip dengan kisah Suku Mera di Lando Cibal.

Kisah Ceki Ndamu Suku Mera di Lando – Cibal.

Apakah ada hubungannya?

Ini Sejarah Suku Mera di Lando - Cibal.

Ditulis oleh: Melky Pantur***,
Jumat (30/12/2016) di Pong Acu Ruteng.

Uku Mera di Lando – Cibal bermula dari sebuah kisah perburuan. Perburuan tersebut dilakukan oleh beberapa saudara yang berasal dari Popo – Satar Mese.
Mereka berburu musang - kula dalam bahasa Manggarai – hingga ke persekitaran Golo Lusang di Ruteng.
Perjalanan mereka cukup jauh dari Popo menuju Golo Lusang, namun baru ditemukan binatang buruan di Golo Lusang.
Saat kula sudah didapat, maka saudara yang usianya lebih tua menyuruh saudara yang bungsu untuk mencari saung laca – daun untuk alas dalam bahasa Manggarai.

Suatu yang mustahil, tidak masuk di akal bagaimana saudara yang tertua menyuruh adik bungsu mereka mencari saung laca di Golo Wesa di Watu Rambung. Sayangnya, titah dari saudara si bungsu tidak ditemukan dan yang diketemukan hanya saung woko – sejenis daun pohon dalam bahasa Manggarai.
Si bungsu kemudian membawa saung woko tersebut ke Golo Lusang di tempat di mana kula buruan ditemukan. Betapa kecewa dan sakit hatinya si bungsu ternyata kula tersebut sudah di-ceang – sudah dibela badannya menjadi beberapa bagian untuk dibagikan.

Tauk.

Karena kekesalannya, dia pun tauk – sejenis bernazar - kepada saudara-saudaranya yang tertua. Begini nazarnya: “Mulai dari sekarang, saya berpisah dari kalian!”.

Si bungsu – yang tidak mengetahui nama aslinya itu – pergi ke arah utara di Cibal. Dia tiba di Golo Bangka lalu ke Golo Kembo dari Golo Kembo bergegas ke Lando – yang sekarang menjadi kampung adat Lando di Cibal.

Mbela.

Kisah perziarahan si bungsu tadi putus di situ. Tidak ada satu pun yang tingeng – ingat dengan baik – cerita lanjutan dari si bungsu yang ngambek tadi. Hal itu karena kurangnya data sejarah tetapi langsung ke cerita tentang sejarah lahirnya Mbela. Nah, kisah si bungsu itulah cerita Empo Takang itu.

Mbela sebenarnya bukan nama asli tetapi nama yang diberikan berdasarkan suatu peristiwa tertentu. Mbela berasal dari keturunan dari si bungsu yang ngambek, namun keturunan mereka tidak diketahui persis nama-namanya.

Begini ceritanya:

Ada seorang perempuan yang tengah mengandung. Tidak diketahui siapa namanya dan siapa pula nama suami dan nama kedua orang tuanya.

Perempuan tersebut hendak ciang tana – mau melahirkan atau partus. Saat mau ciang tana karena ngerinya sakit melahirkan, ibu itupun meninggal dunia. Orang yang membantu perzalinan menjadi panik bercampur sedih. Mereka ingin mendapatkan anak bayi mungil dari rahim ibu yang sudah tidak ada lagi tersebut. Mereka pun berusaha keras dan memutuskan untuk membela perut ibu yang malang itu.

Hasil pembelaan perut tersebut, penolong perzalinan mendapati seorang anak laki-laki dan selamat.

Agaknya dari cerita turun temurun, Mbela kemudian mendapatkan cerita dari ayah dan keluarganya bahwa mereka ber-ceki atau bertotem kula dan niki – niki artinya kalong. Cerita tersebut diperolehnya dari ayah, buyutnya bagaimana kakek pertama mereka meninggalkan saudaranya yang lain karena dia menghargai nazarnya itu.

Tua Golo Gendang Lando, Markus Cundung, warga Lando, Desa Lando, Kecamatan Cibal di Gendang Mera, Jumat (30/12/2016), kepada Penulis menuturkan, manakala keturunan Mbela memakan daging kula dan niki dipastikan mereka terkena ruci – penyakit kulit. Selain itu, keturunan Mbela tersebut tidak boleh puing – menjadikan kayu api – pohon woko yang diambil oleh si bungsu untuk dijadikan laca de kula – daun alas dari musang saat dicincang menjadi onggokan kristal daging.

Dampak dari mem-puing pohon woko, anak dari yang bersangkutan akan bapa – menjadi seperti orang linglung, sengelenge, gila dan sinting.

Musa.

Melanggar ceki atau totem bagi suku Mera masih memiliki musa - obat penawarnya. Caranya menggunakan sejenis rerumputan tai ela – tai ela sejenenis tanaman herbal yang tumbuh di temek atau daerah rawa-rawa. Lazimnya tanaman tersebut tumbuh di dekat mata air dan di situ ada temek – rawa-rawa yang dinilai serem atau dikenal pong cengit.

Untuk diketahui, Uku Mera tersebut berasal dari Mbera di Popo. Sedangkan, soal ceki dari saudaranya di sana belum diketahui karena bagaimanapun si bungsu dalam kisah di atas masih memiliki ceki asal sama seperti ceki dari saudaranya yang lain di Popo.

Apakah Cerita Empo Takang Ada Hubungannya dengan Cerita Lontar Mlondek?

Begini kisahnya…..!!!

Lontar Mlondek dalam Kilasan Sejarah Manggarai.

Ditulis oleh: Melky Pantur***,
Rabu (27/12/2017).

Lalu, Apa Relasinya dengan Kasong?

Drs. Theodorus Taram (Desember 2017
menjabat sebagai
Sekretaris Dinas Kesehatan
Kabupaten Manggarai,
Nusa Tenggara Timur, Indonesia yang pada Kamis, 11 Januari 2018 menjadi Sekretaris Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Manggarai yang dilantik oleh Wakil Bupati Manggarai, Drs. Victor Madur).

menjelaskan, Rabu (27/12/2017), anak perempuan dari Lontar Mlondek - nama aslinya Ntoreng diambil oleh Eyang orang Kasong, persis keturunan dari Keraeng Drs. Maksi Gandur (2017, Kadis Pendidikan Kabupaten Manggarai, NTT). Isteri Eyang orang Kasong itu bersuku Tasok sama dengan Suku Cabo dekat dengan atau memasuki Nontol atau persis di atas Bea Leba.

Mengapa Ntoreng Disebut Lontar?

Otak yang cerdas selalu menuntun orang pada keselamatan. Demikianlah dia, oleh tuturan Keraeng Theo, disebut Lontar karena Ntoreng dapat membaca sekaligus menulis di daun lontar- sowang nama Manggarai untuk pohon lontar. Nama Ntoreng itu sering tidak terdengar.

Siapa Saja Buah Hati Lontar?

Lontar itu juga nenek moyang orang Tasok termasuk Lecem dan Cumpe. Lecem itu ata ngo long - pendatang), mereka datang dari Cumpe. Keturunan Lontar juga ada di Necak - Lamba Leda.

Mengapa Ntoreng Disebut Lontar Mlondek?

Pada zamannya, dulu saat Ntoreng dipanggil oleh Raja Goa di Sulawesi, ia dipanggil menghadap Sang Raja. Raja Goa persis tinggal di lantai dua. Zaman itu tidak boleh ada satu orang pun yang boleh melihat Raja. Tidak tahu apa alasannya?

Akal Ntoreng Mulai Bekerja.

Pada waktu itu, demikian Keraeng Theo Taram, Ntoreng berguman sendiri, kok apa gunanya ia datang jauh-jauh dari Nuca Lale? Ia pun mencari cara cantik bagaimana taktik terelegant dapat melihat paras dari Sang Raja. Dia tidak membuang-buang waktu elok itu ketimbang dia pulang begitu saja, hanya memasuki Kedatonnya Raja saja.

Londek Labu Medium Pencapaian Asa Besar.

Ia pun menyuruh seorang perempuan, persis juru masak Sang Raja. Ntoreng pun menyuruh perempuan itu mencarikan baginya pucuk labu yang panjang puncuknya satu meter. Harus dimasak baginya sepanjang kurang lebih sepanjang itu dan tidak boleh dipotong-potong lagi. Sang Raja pun tidak melarang si perempuan itu karena dianggap wajar-wajar saja.
Si perempuan itu tak menolak tawaran asyiknya itu kendati si perempuan juru masak itu tidak tahu apa maksud di balik semuanya itu. Perempuan itu hanya melakukan perintah tanpa berpikir dua kali karena itu permintaan seorang tamu yang diundang khusus Sang Raja Goa.

Hidangan Pucuk Labu Sudah di Meja Makan.

Apa yang dibuat Ntoreng dengan pucuk labu yang panjang yang dimasak perempuan juru masak Sang Raja?

Ntoreng menarik tangannya sembari memegang ujung pucuk labu di tangannya yang lain, tangan yang lainnya mengarahkan pangkal pucuk labu itu ditempatkan di kedua gigi serinya dan tak ketinggalan lidahnya pun mengacak-acak pangkal pucuk labu itu.

Kornea Mata Ntoreng Sukses Meraih Paras Si Raja.

Betapa tersentaknya Sang Raja. Kedua mata pun saling memandang. Sang Raja memergoki kornea Ntoreng begitupun sebaliknya. Sang Raja tak bisa menggelak, peristiwa itu tengah terjadi di depan matanya. Sesuatu yang tidak mungkin dimungkinkan oleh Ntoreng.

Sang Raja Memuji Kecerdasan Ntoreng.

Kingai! Kira-kira demikian celetupan hati kecil Sang Raja. Raja pun memuji kecerdasannya, Ntoreng. Sementara, Ntoreng puas dengan asanya itu. Dari sejak itulah, nama lainnya Lontar Mlondek!

Dengan Apakah Ntoreng Berlabuh Jauh ke Goa Mengarungi Lautan Biru dari Nuca Lale?

Menurut beberapa sumber, aku Keraeng Theo, Ntoreng ke Goa tidak menggunakan kapal laut. Dia naik sabuk kelapa. Dia mengeluarkan semua isinya di dalam tempurung atau leke lalu sabuknya pasti diracik dan menaiki itu. Kapal laut waktu itu belum ada.

Bagiamana Strategi Ntoreng dalam Memerangi Musuhnya?

Kalau dia berperang lebih banyak menggunakan logika. Suatu kali, tepatnya di telaga kecil di salah satu tempat di Cibal atau populer disebut Tiwu Melkoji. Melkoji itu putera dari Mori Reo - Raja Reo. Melkoji menjadi saksi hidupnya terutama Tiwu Melkoji tersebut karena Melkoji meninggal di situ.

Taktik yang Licik tetapi Menyakinkan.

Suatu ketika, Ntoreng menyuruh warga di sana membuatkan tenda di atas tiwu tetapi harus dipastikan jari kaki telunjuk Melkoji menyentuh air. Dan kakinya itu ditambatkan dengan sebongkah batu yang diikatkan pada kaki Melkoji. Yah, Melkoji pun membeku.

 Lontar Melarikan Diri ke Kawak.

Setelah peristiwa naas itu, Lontar tahu benar bahwa dirinya bakal menjadi dagingan Mori Reo. Firasatnya benar, ia pun melarikan dirinya ke Kawak tepatnya di Tadak
di kebunnya Empo Paju La'e. Empo Padju La'e adalah kesa (saudara ipar) dari Ntoreng. Empo Paju masih tinggal di situ menjaga kebunnya. Tidak ke mana-mana. Dia heran akan kehadiran kesa-nya karena tidak diduganya datang. Tentara Mori Reo sudah sibuk mencarinya dan mereka mendapat informasi kalau Ntoreng melarikan diri ke tempat Padju La'e bertinggal.

Daun Sere Penyelamat Ntoreng.

Badannya Mlontar itu wanginya seperti daun sere - laci teu dalam bahasa Manggarai. Tentu orang Bima dapat dengan mudah mendapati tubuhnya itu untuk didagingkan karena cukup mengendus bau badannya saja. Namun, otak cerdas selalu menjadi malekat pelindungnya.

Padju La'e pun menyuruh Ntoreng mencarikan daun sere sebanyak-banyaknya sebelum musuh-musuhnya mendekapnya. Dedaunan sere itu pun diselipkan di beberapa sudut sekang (gubuk) itu. Di sekang itu banyak sekali jagung. Ntoreng pun bersembunyi di bawah tumpukan jagung milik Padju La'e atas saran kesa-nya itu.

Ntoreng Selamat dari Meregang Nyawa.

Ketika para tentara Mori Reo tiba di gubuknya Padju La'e, mereka menanyakan keberadaan Ntoreng. Mereka menghirup wangi daun sere. Mereka memastikan bahwa Lontar ada di situ. Padju La'e pun menunjukkan kepada mereka bahwa Ntoreng tidak ada bersamanya. Adapun bau wangi daun sere itu berasal dari daun sere sungguhan yang dia selipkan di dalam atap dan beberapa sudut gubuknya. Tentara Mori Reo pun bergegas balik ke Reo karena mereka percaya buta dengan taktik dan pengakuan itu.

Tumpukan Corpus Berkelimpangan di Bea Loli:
Tidak Ada Satupun Bedil Meletus di Perang Cucak.

Setelah peristiwa itu, terjadilah pertempuran hebat. Tepatnya di Bea Loli, banyak sekali pasukan Mori Reo berubah status menjadi nenek moyang. Moncong bedil mesiu yang mereka tenteng tinggal pelatuknya saja. Yah, tidak ada yang meletus - persis sejarah Lalong Bakok perang ke Aceh sebagaimana pernah diwawancara Penulis di Warloka. Karena keanehan itu, tentara Mori Reo banyak meregang nyawa di Bea Loli tersebut. Pasukan yang tersisa pun kembali ke Reo dengan membawa kabar dukacita. Perang itupun disebut Perang Cucak.  Disebut Bea Loli karena corpus itu digeletakkan di dataran rendah di Cucak - bea artinya dataran, sedangkan loli artinya loling atau mayat yang bergelimpangan disemayamkan di sana.

Lontar Angkat Kaki ke Necak Lamba Leda.

Sejarah panjang perang dan kekwatiran seolah-olah senantiasa menghantuinya. Ntoreng tidak ingin hayatnya lekas tidak dikandung badan. Asa besarnya untuk tetap menatap rembulan di mana ia dapat merasakan sentuhan kemesraan alam di malam hari hal mana pula ia dapat menyatu dengan pribadinya yang cerdas, mengajarnya tentang kebijaksanaan yang merupakan buah cinta cipta Sang Pencipta menjadi ideanya yang terdalam. Ia pun ingin tetap merasakan hangatnya surya di fajar di sekujur tubuhnya yang senantiasa menyingsing di ufuk timur. Ingin terus menapaki itu sekaligus ingin disapa dan disentuh laksaan ilalang yang mengandung embun-embun segar yang senantiasa tergoyang ketika bertabrakan dengan tulang kering kakinya terlebih di pagi dan di siang usai hujan menerpa bumi saat-saat ia menyusuri padang belantara waktu itu.

Ia terus dikejar. Jejaknya bak satwa liar yang diburu. Ia diincar ke sekian juta kali banyaknya. Lontar pun membukit dan melembah. Dicarinya arah timur yang ternyata sebagai arah penghentian terakhir kendati ia pun sukses meninggalkan tapak tilas generasi baru di Necak di kemudian masa. Seakan mencari Ilahi sebagai pusat, sumber dan tujuan ziarah takdirnya di atas onggokan bebatuan, pasir bercampur tanah dan di atas rambatan akar serabut pepohonan halnya akar-akar pepohonan hutan belantara yang merangkak, teks ziarahnya pun ditutup Yang Ada.

Kisah bertolak maju.....!!!

Mempersunting Gadis Lamba Leda.

Hasrat seorang pria untuk menyebarkan generasi bak bintang di langit dan pasir di tepi pantai menjadi doyanan yang paling hakiki. Sebagaimana ia suka pada pucuk labu, begitupun ia suka pada daun-daun muda yang masih lembut dan kinclong cerah menawan untuk dimadu mendayung-dayung.

Di Lamba Leda, ia mengambil beberapa daun muda sebagai isterinya. Keturunannya di Lamba Leda pun tepatnya berkecambah kembang di Kampung Necak sekarang ini.

Perhentian Tapak Ziarah Berakhir, Sebuah Ending Keterpangilan.

Segala sesuatu ada waktunya, ada waktu untuk datang ada waktu untuk pulang. Bak penumpang ojek, ada yang turun, ada yang naik. Seakan-akan hukum determinasi menjadi imperatif, sebuah standar dasar keharusan kehidupan yang memang mesti wajib dilakonkan kendati setiap pelakonan harus ada pergorbanan sebagaimana dari sananya - Tuhan - gerigi roda dimainkan untuk berputar atau berhenti bagaikan kunci starter kendaraan.

Setiap tapak pasti ada kenangan, setiap kenangan pasti ada bacaan baru. Dan inilah bacaan itu! Bacaan yang tanpa ujung meski pangkalnya telah tercipta di mana sang pelakon diadakan oleh Yang Kuasa bertandang ke alam bumi pada suatu masa kala itu, telah terlewati.

Pusara Bernama.

Ibarat perbuatan yang sudah lama tertanam menghantam sesama, demikian pula hataman itu bak pelatuk mesiu bedil mengenai diri. Itulah akil balik dari kisah Si Raja ketiga, Ntoreng.
Raganya yang berjasa menumpas lawan dengan cara diganyang, demikian pula senjata itu memakan tuannya. Ntoreng, pria tangguh nan berani di zamannya menyelesaikan kisahnya dengan cara diganyang pula. Bukan salah siapa sebab itulah cara klimaks keterpanggilnya di bumi.

Sekarang pusara telah tercatat. Mtoreng mati terbunuh di sana dan pusaranya terkenang tertanam di atas di dalam pertiwi tepatnya di Wereng - sebuah tempat antara Wereng dan Rawang, arah dari Wae Naong menuju Benteng Jawa. Wereng saksi puncak panggilannya sebagai seorang Raja sebagaimana dikutip dari tulisan ini:  Dikutip dari www.sesambate.blogspot.com tulisan dari Keraeng Frans, yang di-posting, Sabtu, 15 Agustus 2015, dengan judul: Sejarah Daerah Manggarai. Tulisan itupun disadur dari www.djohandyharwali.blogspot.com menulis, Lontar adalah Raja ketiga Manggarai, sebelumnya Mashur Raja pertama, sedangkan Raja kedua bernama Sehak.
Wilayah Kekuasaan Lontar Pada Zamannya.
Lontar sebagai Pemimpin di Cibal memiliki wilayah kekuasaan, mulai dari Langke Rembong sekarang ini hingga Ruteng dan Cancar.

Kisah Lain.

Makan Satu Ton Garam.

Ntoreng semasa hidupnya pernah diuji memakan satu ton garam. Ia mampu melakukannya dengan syarat harus dicampur mentimun. Ia pun sanggup menyelesaikan itu.

Tentu masih ada kisah lain yang belum tercatat. Ibarat sawah yang semuanya tidak tergenang air karena posisinya di kemiringan, demikian pulalah tapak ziarah hidupnya di bumi tak terjangkau semuanya. Nah, kisah inilah yang mirip dengan kisah Empo Takang, keturunan dari Hormat.

Ceki Suku Tasok.

Adapun ceki atau totem Suku Tasok yaitu dilarang memakan kula atau musang. Alasannya, kula-lah yang menghadang serangan musuh terhadapnya karena wangi badan Ntoreng persis bau badan binatang musang. Musanglah yang menghadang musuhnya saat itu. Musang pun menjadi saudara. Meski begitu, ia pun mati terbunuh di Lamba Leda.

Selanjutnya………………..!!!

Apakah kakaknya Empo Hormat merupakan keturunan orang Suku Nawang sekarang ini?

Ditulis oleh: Melky Pantur***,
Minggu (31/12/2017)

Asal  Mula Desa Coal.

Kampung Coal terletak di Desa Coal, Kecamatan Kuwus (2017), Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, Asia. Sejak berdirinya hingga tahun 2017, ada 22 suku yang mendiami kampung ini yang kemudian menjadi sebuah Pusat Pemerintahan Desa pada saat terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam sejarah Kerajaan di Manggarai, Kampung Coal dan sekitarnya masuk dalam kekuasaan Gelarang Ndori – dalam bahasa lokal, Manggarai disebut sebagai Negeri Nuca Lale.

Sejarah Awal.

Sejarah Kampung Coal tidak terlepas dari tapak tilas salah seorang nenek moyang dari Suku Nawang bernama Empo Sasak – Empo dalam ungkapan orang Manggarai artinya nenek moyang, Eyang).

Mulanya, Empo Sasak yang dipercaya sebagai keturunan Nggae Sawu – tengah ditelusuri kebenarannya karena ia memakan daging dengan mentah bukan dengan cara dibakar karena keturunan Nggae Sawu merupakan titisan dari Kodalam yang kemudian melahirkan Juawone), menetap di Mandosawu. Mandosawu (2370 dpl) sebagai salah satu gunung tertinggi di Flores selain Poco Likang (2370 dpl), Poco Ngandonalu (2367 dpl) dan Poco Ranaka (2292) yang kesemuanya ada di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) atau awalnya dikenal Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng. Kedua gunung tersebut, ketinggiannya hampir sama, meski masih berada di bawah ketinggian Gunung Mutis (2427 dpl) tepatnya di Bonleu Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Lih. http://infopendaki.com/daftar -gunung-di-ntt-nusa-tenggara-timur.

Tipologi.

Empo Sasak kulit badannya diselimuti buluh-buluh tebal. Suka berburu dan memakan daging buruannya tanpa dibakar terlebih dahulu tetapi dengan cara dicincang lalu dimakan mentah – demikian tuturan Keraeng Frans Gas, Tu’a Gendang Coal, Sabtu sore, (30/12/2017) di Bea Waek tepatnya di kediaman Keraeng Petrus Jemadi kakak tertuanya dari keturunan isteri pertama dari Keraeng Benediktus Hampi. Dilihat dari cara memakan dagingnya, Empo Sasak mirip dengan nenek moyang orang Ruteng Runtu – bukan Ruteng Pu’u, keturunan dari Empo Nggoang, yang sekarang (2017) darah Nggoang mengalir di tubuh Keraeng Tambor Ruteng Pu’u, Keraeng Lambertus Dapur.

Meluncur ke Poco Likang.

Dari Mandosawu, Empo Sasak  yang suka berburu babi hutan itu, demikian Keraeng Frans Gas, menetap di Poco Likang. Tidak tahu persis, berapa lama ia tinggal di Poco Likang, tempat yang sangat dingin tersebut.

Turun Gunung.

Bergegas ke Golo Nawang.

Karena suka dengan berburu babi hutan, ia mengikuti buruannya dan mendapati mangsanya di Golo Nawang. Ia melihat suatu yang lain di sana, yang kalau dilihat view indah dataran Cancar, Anam hingga ke arah timur Cumbi kendati ia meninggalkan lokasi view strategis di Poco Likang dan Mandosawu sebelumnya. Ia pun merasa betah lalu membangun tapak tilas baru berupa compang - compang dalam bahasa lokal di Manggarai untuk menyebut mezbah. Setelah membangun compang, ia pun mendirikan sebuah Gendang, berupa Gendang Lancung – Gendang Lancung dalam maksud tertentu dikenal juga sebagai Gendang Singgahan, yang kurang lebih seperti itu. Tidak tahu berapa lama, Empo Sasak mendiami tempat tersebut.

Bergegas ke Maras.

Dari Golo Nawang, Empo Sasak kembali berburu. Kali ini buruannya itu berupa tagi (rusa). Tepat di sebuah mata air, ia mendapati mangsanya lalu dicincangnya dan dimakannya mentah.

Culture Shock.

Menemukan Api dan Tambatan Hati.

Perziarahan Empo Sasak yang panjang mengisi rentang hayatnya dengan hanya berburu, kemudian menemukan sebuah situasi baru dan cara baru dari lingkungan barunya.

Api.

Karena kelazimannya memakan daging secara mentah, ia pun bertemu dengan seseorang dari Maras. Terjadilah komunikasi di antara keduanya. Seorang lelaki seusianya lalu mengatakannya untuk tidak memakan daging dengan cara mentah. Pria itupun memberikannya api. Empo Sasak pun mengamininya dan menyalakan api untuk membakar daging rusa hasil buruannya itu.

Ketidaklaziman menciptakan keadaan baru. Buluh-buluh di sekujur tubuh Empo Sasak pun sere – sere itu terkena api), hingga buluh-buluhnya terkelupas. Sejak saat itulah, buluh-buluh tubuh Empo Sasak hilang dan berbadan seperti halnya manusia yang lain.

Tambatan Hati.

Nasib baik menjumpai tapaknya. Seorang gadis asal Maras bernama Timung dipersuntingnya menjadi bagian belahan jiwanya. Namun sayangnya, rajutan asmara dua insan itu tidak menimbulkan datangnya buah hati. Rasa rindu ingin mendapatkan anak membuat Empo Sasak terus mencari dan mencari hingga ke pengakhirannya di Coal.

Bertolak ke Ndori.

Entah apa yang membuat Empo Sasak berubah pikiran meninggalkan isterinya, si Timung, di Maras. Barangkali karena upaya romantisnya tidak berhasil, dia tega meninggalkan isteri eloknya itu – Suku Nawang di Coal, anak rona pu’u berasal dari Maras dekat Rentung, Kecamatan Ruteng (2017).

Sebuah Asumsi.

Rupanya, sebelum Empo Sasak bergegas ke Ndori, ia sempat tinggal di Kasong dekat Lando karena ceki (totem, tabu) Empo Sasak berupa Paku Mundung dan Pake Pangka Leka.

……………………………..

Kisah Ceki Rata Keturunan Empo Takang.

Tepatnya di Liang Woja, nenek moyang itu berjalan di dalam gua. Mereka awalnya masuk agak diperkirakan pagi hari namun tidak tahu jalan keluar. Ketika hari telah sore – leso nderes), mereka mendengar suara ayam hutan berkokok (tehe rata lalong). Mereka pun mendengar dan mengikuti suara rata tersebut. Barulah mereka mendapat jalan keluar tepatnya di pa’ang Barang (gerbang kampung Barang sekarang ini, 2018). Karena bantuan bunyi dari ayam hutan tersebutlah, lalu mereka bernazar bahwa mereka dan keturunan mereka tidak memakan daging ayam hutan lagi.

Sebuah Catatan:

Beberapa suku di Manggarai memiliki beberapa ceki yang sama yaitu ceki kula/ndamu. Beberapa keturunan yang memiliki ceki yang sama tetapi dengan kisah yang berbeda, seperti: Ceki kula orang Wae Rebo terutama kisah Empo Maro; kisah ceki kula orang Suka di Manggarai Barat. Lalu, ceki kula Suku Mera di Lando – Cibal. Yang mirip cerita ceki kula-nya yaitu cerita ceki kula Empo Takang dan Suku Mera di Lando – Cibal.
Pertanyannya, apakah kisah kula tersebut mau menunjukkan bahwa dari orang-orang bersoal tegang termasuk dituntun kula tersebut masih satu ayah, baik orang Suka, orang Suku Mera Lando termasuk orang dari keturunan Empo Maro dan keturunan Empo Takang? Ini pertanyaan yang perlu dijawab kemudian.

Pertanyaan berikut, apakah ada hubungan antara ceki rata keturunan orang Mbaru Asi di Coal yang juga ber-ceki rata Empo Takang di Golo Cador?